Sumpah Laknat Saiful memang terkandung dalam Al-Quran

Di sini saya ingin petik ulasan yang dibuat oleh sahabat seperjuangan di www.pembelamelayu.com tentang pandangan agama Islam di dalam isu bersumpah.  Saya mengaku ilmu saya cetek,  tapi tak salah kalau kita sama-sama belajar.  Di sini juga saya selitkan komen pengunjung di www.pembelamelayu.com yang juga menyentuh kewajaran sumpah ini di sisi Islam.

Surah An Nuur
——————————————————

null

[24:6] Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, bersungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.

null
[24:7] Dan (sumpah) yang kelima: bahawa la’nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta
null
[24:8] Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta.

[24:9] dan (sumpah) yang kelima: bahwa la’nat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar

null
[24:10] Dan andaikata tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan (andaikata) Allah bukan Penerima Taubat lagi Maha Bijaksana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan).

Komen pengunjung di www.pembelamelayu.com: –

salam..

saudara , oleh kerana saiful tidak melakukan sumpah sebanyak 4 kali terlebih dahulu..

ada ayat 61 dari surah aali imran juga boleh menunjukkan bahawa sumpah saiful memang dibolehkan shara3 inshaallah..

boleh dibaca di blog faisal tehrani..ini petikan selanjutnya yang saya ambil dari blog beliau..

Apabila Allah berfirman dalam surah Ali ‘Imran ayat 61 yang mengandungi ayat:

“Siapa yang membantahmu tentang dia (Al-Masih) setelah datang kepadamu ilmu, maka katakanlah (kepada mereka): Marilah, kami memanggil anak-anak lelaki kami dan (kamu memanggil) anak-anak lelaki kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu dan diri-diri kami serta diri-diri kamu, kita bermubahalah dan kita tetapkan laknat Allah atas mereka yang berdusta”.

Ia memang adalah seruan politik. Ayat ini disebut juga sebagai ayat mubahalah kerana di dalamnya ada ajakan untuk bermubahalah dengan blok politikus Nasrani (para pendeta) yang enggan mengakui kebenaran baginda Rasulullah dan ajaran Islam.

Insiden ini seperti yang disampaikan oleh para muarrikh, mufassir dan muhaddits ialah peristiwa mubahalah, iaitu ketika datang utusan dari masyarakat nasrani Najran untuk membantah Rasulullah saw, Allah Ta’ala segera menurunkan ayat di atas agar baginda Nabi memanggil Saidina Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Beliau keluar membawa mereka ke lembah yang telah ditentukan dan para pemimpin Nasrani pun membawa anak-anak dan perempuan-perempuan mereka.

Membawa susur galur keturunan bersama untuk dilaknat demi mencari kebenaran menunjukkan kebenaran Rasulullah.

Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf berkata : “Sesungguhnya ketika mereka (Nasrani) diseru untuk bermubahalah mereka mengatakan : ‘Nanti akan kami pertimbangkan terlebih dahulu’.

Tatkala mereka berpaling (dari mubahalah) berkatalah mereka kepada Al-Aqib—yang menjadi juru bicara mereka : ‘Wahai hamba Al-Masih, bagaimanakah menurutmu?’ Dia berkata: Demi Allah, kalian juga tentu mengetahui wahai umat nasrani bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul. Dia datang kepadamu membawa penjelasan mengenai Isa (Jesus). Demi Allah tidak ada satu kaum pun yang mengadakan mubahalah dengan seorang Nabi lalu mereka hidup. Dan jika kalian melakukan mubahalah dengannya, nescaya kalian semua pasti binasa, dan apabila kalian ingin tetap berpegang kepada ajaran kalian maka tinggalkan orang tersebut dan pulanglah ke kampung halaman kalian”.

Sikap bertangguh kaum Nasrani tersebut hanya menambahkan kebenaran yang melingkungi Rasulullah dan keturunannya.

Keesokan hari, Nabi saw datang dengan mendukung Husin dan menuntun Hasan sambil Saidatina Fatimah berjalan di belakang. Mengekori ialah Saidina Ali yang berjalan di belakang isterinya Saidatina Fatimah. Nabi bersabda : “Bila aku menyeru kalian maka berimanlah!”.

Melihat Nabi dan ahlulbaitnya, berkatalah uskup Najran : “Wahai umat Nasrani, sungguh aku melihat wajah-wajah yang sendainya mereka berdoa kepada Allah agar Dia (Allah) menghilangkan sebuah gunung dari tempatnya pasti doa mereka akan dikabulkan, oleh kerana itu tinggalkan mubahalah sebab kalian akan celaka yang nantinya tidak akan tersisa seorang nasrani pun sampai hari kiamat”.

Akhirnya mereka berkata: “Wahai Abul Qasim, kami telah mengambil keputusan bahawa kami tidak jadi bermubahalah, namun kami ingin tetap memeluk agama kami.”

Rasul bersabda: “Jika kalian enggan mubahalah maka terimalah Islam bagi kalian dan akan berlaku hukum atas kalian sebagai mana berlaku atas mereka (muslimin yang lain).”

Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: